Cerdas
Menggunakan Antibiotik
Halo teman-teman….
Tulisan saya berikut ini lumayan menarik karena saya
terinspirasi dari beberapa “kejadian menarik” yang sempat menyita perhatian
saya sebagai Apoteker dan mungkin teman-teman saya sejawat lain yang bertugas
bersama saya. Ditempat tugas saya, antibiotic sudah menjadi makanan sehari-hari
atau bukan lagi menjadi obat yang dipantau pemakaiannya oleh tim medis. Bahkan
beberapa pasien sering gak mau minum obat jika tanpa antibiotic, atau kadang
sering menanyakan mana antibiotiknya saat petugas apotik menyerahkan obat ke
pasien? Kira-kira apa sih pemahaman masyarkat tentang antibiotic sehingga
begitu boming obat ini ditelinga
masyarakat.
Nah, tulisan ini sedikit ingin memberi informasi kepada
masyarakat agar mengenali dan memahami obat-obat antibiotic, resiko antibiotic,
dan cara penggunaan secara tepat agar terhindar dari resistensi bakteri.
Apa
itu bakteri?
Sebelum kita membahs tentang antibiotic, kita perlu
mengenal dulu apa sih bakteri itu? Bakteri adalah suatu organisme yang
jumlahnya paling banyak dan tersebar luas dibandingkan dengan organisme lainnya
di bumi yang berukuran sangat kecil (mikroorganisme). Mikroorganisme sendiri ada
bermacam-macam jenisnya, antara lain adalah virus, jamur, parasit, termasuk
bakteri. Bakteri dapat dijumpai di hampir semua tempat, seperti tanah, air,
udara, hidup bersama dengan organisme lain (ber-simbiosis), bahkan dalam tubuh
manusia. Sebagian dari mereka bersifat merugikan dan dikenal sebagai penyebab
infeksi dan penyakit pada manusia, sedangkan sebagian lain ada yang bermanfaat
misalnya di bidang pangan, pengobatan dan industri.
Bakteri berasal dari kata bahasa latin yaitu bacterium. Bakteri memiliki jumlah spesies mencapai ratusan ribu atau bahkan lebih. Mereka ada di mana-mana mulai dari di tanah, di air, di organisme lain, dan lain-lain juga berada di lingkungan yang ramah maupun yang ekstrim.
Dalam tumbuh kembang bakteri baik melalui peningkatan jumlah maupun penambahan jumlah sel sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yakni seperti ph, suhu temperatur, kandungan garam, sumber nutrisi, zat kimia dan zat sisa metabolisme.
Bakteri berasal dari kata bahasa latin yaitu bacterium. Bakteri memiliki jumlah spesies mencapai ratusan ribu atau bahkan lebih. Mereka ada di mana-mana mulai dari di tanah, di air, di organisme lain, dan lain-lain juga berada di lingkungan yang ramah maupun yang ekstrim.
Dalam tumbuh kembang bakteri baik melalui peningkatan jumlah maupun penambahan jumlah sel sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yakni seperti ph, suhu temperatur, kandungan garam, sumber nutrisi, zat kimia dan zat sisa metabolisme.
Bakteri yang
menyebabkan penyakit pada manusia, maupun pada hewan dan tumbuhan, disebut bakteri
patogen. Beberapa contoh bakteri patogen dan penyakit yang ditimbulkannya
adalah seperti di bawah ini:
1.
Salmonella
typhi : Tifus
2.
Shigella
dysenteriae: Disentri basiler
3.
Vibrio cholera: Kolera
4.
Haemophilus
influenza: Influensa
5.
Diplococcus
pneumoniae: Pneumonia (radang paru-paru)
6.
Mycobacterium
tuberculosis: TBC paru-paru
7.
Clostridium
tetani: Tetanus
8.
Neiseria
meningitis: Meningitis (radang selaput otak)
9.
Neiseria
gonorrhoeae: Gonorrhaeae (kencing nanah)
10.
Treponema
pallidum: Sifilis atau Lues atau raja singa
11.
Mycobacterium
leprae: Lepra (kusta)
12.
Treponema
pertenue: Puru atau patek
Golongan Obat Antibiotik
Golongan obat yang bisa membunuh
bakteri disebut obat antibiotic.
Berdasarkan mekanisme aksinya dapat dibagi menjadi 4 golongan yaitu:
a.
Inhibisi sintesisi dinding sel atau
yang bekerja menghambat pembentukan dinding sel bakteri contohnya: golongan penicillin, sefalosporin dan
glikopeptida, misalnya amoksililin,
ampisilin, sefotaksim, ceftriakson dan sefiksim.
b.
Inhibisi sintesis protein atau yang
bekerja menghambat sintesis protein bakteri contohnya golongan makrolida
(eritromisin, asitromisin), aminoglikosida, tetrasiklin, kloramfenikol,
klindamisin, dll.
c.
Inhibisi sintes asam nukleat atau
yang bekerja mengantagonis asam nukleat untuk pertumbuhan bakteri, contohnya:
sulfonamid dan trimethoprim.
d.
Inhibisi membrane sel atau yang
bekerja menghambat transkripsi dan replikasi DNA bakteri, contonya: golongan
kuinolon, rifampisin dan aktinomisin.
Nah, dari sini tampak jelas bahwa
golongan obat antibiotic itu banyak dan masing-masing memiliki spesifikasi
sendiri terhadap bakteri yang timbul dari suatu penyakit. Ketika seorang pasien
didiagnosa mengalami infeksi bakteri, dokter akan memilih antibiotic yang tepat
sesuai dengan kondisi pasien (jenis penyakit, jenis bakteri yang menyebabkan
penyakit dan sensitivitas kuman terhadap bakteri).
Cara
Perkembangbiakan bakteri:
Bakteri umumnya melakukan reproduksi
atau berkembang biak secara aseksual (vegetatif = tak kawin) dengan membelah
diri. Pembelahan sel pada bakteri adalah pembelahan biner yaitu setiap sel
membelah menjadi dua.
Reproduksi bakteri secara seksual
yaitu dengan pertukaran materi genetik dengan bakteri lainnya. Pertukaran
materi genetik disebut rekombinasi genetik atau rekombinasi DNA.
Rekombinasi genetik dapat dilakukan
dengan tiga cara yaitu:
1. Transformasi adalah pemindahan
sedikit materi genetik, bahkan satu gen saja dari satu sel bakteri ke sel
bakteri yang lainnya.
2. Transduksi adalah pemindahan materi
genetik satu sel bakteri ke sel bakteri lainnnya dengan perantaraan organisme
yang lain yaitu bakteriofage (virus bakteri).
3. Konjugasi adalah pemindahan
materi genetik berupa plasmid secara langsung melalui kontak sel dengan
membentuk struktur seperti jembatan diantara dua sel bakteri yang berdekatan.
Umumnya terjadi pada bakteri gram negatif.
Respon Tubuh terhadap serangan infeksi disebut dengan
peradangan. dalam kondisi normal sebisa mungkin tubuh manusia melakukan
perlawanan terhadap infeksi yang bersifat merugikan tubuh, namun pada beberapa
kondisi sistem kekebalan tubuh tidak mampu untuk melawan penyebab infeksi,
dalam hal inilah diperlukan pengobatan seperti antibiotik untuk membantu sistem
kekebalan tubuh terhadap infeksi.
Proses
berkembangnya bakteri menjadi resisten bisa juga terjadi akibat penggunaan
antibiotic yang tidak tepat atau sembarangan. Setelah gen resisten dihasilkan,
bakteri kemudian dapat mentransfer informasi genetik secara horisontal (antar
individu) dengan pertukaran plasmid. Mereka kemudian akan mewariskan sifat itu
kepada keturunannya, yang akan menjadi generasi resisten. Resistensi antibiotic
merupakan masalah kesehatan yang serius akhir-akhir ini. . Resistensi bakteri
memang seperti tidak terasakan secara langsung akibatnya oleh pasien, namun
baru akan terasakan dampaknya ketika seseorang terinfeksi dan tidak
sembuh-sembuh setelah diberi antibiotika. Hal ini bisa terjadi jika pasien
tersebut terinfeksi oleh bakteri yang resisten antibiotik, sehingga pengobatannya
menjadi lebih sulit dan harus menggunakan obat yang lebih kuat dan lebih mahal
dengan lebih banyak efek samping. Jika kejadian ini terakumulasi dalam
sekelompok masyarakat, maka biaya kesehatan menjadi sangat meningkat.
Penggunaan antibiotik yang terlalu sering dan tidak sesuai jenis bakterinya
dapat menghasilkan jenis bakteri baru yang dapat bertahan terhadap pengobatan
yang diberikan. Jenis bakteri baru ini memerlukan dosis pengobatan yang lebih
tinggi atau antibiotik yang lebih kuat untuk mengatasinya. Penyebab utama
meningkatnya bakteri yang resisten adalah penggunaan antibiotik secara berulang
dan tidak sesuai jenis bakterinya. Hal ini menyebabkan jika seseorang
menggunakan antibiotik maka bakteri yang sensitif akan terbunuh, di lain pihak
bakteri yang reisisten akan tetap bertahan, tumbuh dan bereproduksi sehingga
jumlah bakteri yang resisten akan meningkat. Penggunaan Antibiotik yang tidak
rasional dapat berakibat buruk karena dapat menyebabkan bakteri menjadi
resistensi atau kebal. Bakteri mampu bermutasi sehingga tahan terhadap
antiibiotik (resistensi). Resistensi memunculkan Superbug, yaitu bakteri yang
tidak dapat dibunuh oleh antibiotik paling mutakhir sekalipun.
Pendorong kecepatan resistensi
bakteri dalam tubuh antara lain :
1)
Penggunaan antibiotik sembarangan.
Antibiotika
tidak bisa membunuh virus. Beberapa penyakit yang sering kita jumpai seperti
flu, batuk, diare, sebagian besar disebabkan oleh virus. Namun seringkali
dokter meresepkan atau juga pasien berinisiatif untuk menggunakan antibiotik.
Semestinya antibiotik hanya diperlukan bila flu dan pilek sudah ditumpangi
infeksi sekunder oleh bakteri, dan itu dapat terlihat dari adanya tanda-tanda
infeksi. Penggunaan yang tidak tepat seperti ini bisa menyebabkan bakteri yang
semula “lemah” akan ber-evolusi menjadi bakteri yang “kuat” dan resisten.
2)
Putus obat.
Sering
terjadi pasien menghentikan penggunaan antibiotika jika sudah merasa sembuh,
padahal penggunaan antibiotika seharusnya dilakukan sampai jangka waktu
tertentu, misalnya 5 hari atau 7 hari. Antibiotik harus habis diminum walaupun
sudah merasa nyaman. Penggunaan yg tidak habis akan membunuh bakteri yang
sensitif saja, dan meninggalkan bakteri yang masih “kuat’. Selanjutnya bakteri
yang masih hidup menjadi resisten/kebal dan berkembang biak, dan memerlukan
antibiotik yang lebih kuat (dan biasanya lebih mahal) ketika mengalami infeksi
berikutnya.
Bagaimana Penggunaan Yang Benar?
Untuk menekan kejadian resistensi
perlu dilakukan beberapa hal berikut:
a)
Jangan
membeli sendiri tanpa resep dokter walaupun obat tersebut bisa dibeli di apotek
tanpa resep. Karena Anda tidak tahu persis berapa dosis dan jumlah yang harus
diminum. Penyakit yang nampaknya sama, belum
tentu demikian, sehingga sebaiknya mendapatkan diagnosa yang tepat dari dokter.
Apotek menjual antibiotika tanpa resep karena ada permintaan pasien. Rangkaian
proses ini perlu diputuskan. Jangan mudah apalagi memaksa membeli antibiotik di
Apotek tanpa resep dokter. Jangan menggunakan antibiotik pada penyakit-penyakit
ringan akibat virus seperti flu, batuk, pilek, diare.
b)
Ingat
antibiotik hanya untuk mengobati penyakit yang berasal dari bakteri (mikroba)
seperti infeksi saluran kemih, radang tenggorokan.
c)
Tenaga kesehatan selain dokter
seperti bidan, perawat, mantri, juga semestinya tidak mudah memberikan
antibiotika kepada pasien.
d)
Apoteker lebih berhati-hati
memberikan/menjual antibiotika. Jangan memberikan/menjual antibiotika
sembarangan tanpa resep dokter. Jangan gantungkan rezeki Anda di sini, Insya
Allah ada sumber lain yang lebih bermaslahat bagi masyarakat. Jika menyiapkan
resep antibiotika untuk pasien, sebaiknya berikan edukasi secukupnya mengenai
cara penggunaan obatnya yang tepat, misalnya : harus habis, dll.
e)
Dokter dan apoteker sebagai sesama
tenaga kesehatan perlu meningkatkan komunikasi yang lebih efektif terkait
dengan penggunaan antibiotika. Apoteker lebih memahami mengenai antibiotik dan
indikasinya, sementara dokter juga terbuka untuk diingatkan jika meresepkan
antibiotika secara kurang rasional
Cerdas dalam menggunakan antibiotic
dapat mengurangi resisten bakteri dalam tubuh kita. Semoga tulisan singkat ini
dapat bermanfaat untuk kita…..!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar