Apa
Saja Golongan Obat Asma….??
Halo teman-teman,
Berikut saya ingin membagikan sedikit ilmu tentang golongan obat asma. Seperti yang kita ketahui obat Asma itu ada banyak. Nah, tulisan ringan ini sekedar untuk mengingatkan kita apa sih golongan obat-obat asma? Semoga bermanfaat ya.....
1). Golongan
Kortikosteroid
a). Beklometason
Mempunyai
daya larut buruk dan hanya sedikit diresorpsi oleh mukosa bronchi. Obat ini
dengan cepat diinaktivasi melalui esterase. Karena sebagian besar dari pada
dosis tinggi. Obat ini dapat digunakan secara lokal dalam bentuk dosis-aerosol (nebuhaler),
serbuk inhalasi (turbuhaler) atau cairan inhalasi (Tan dan Rahardja,
2002).
Efek
samping yang sering timbul adalah terjadi infeksi mulut kandidiasis pada mulut
dan tenggorakan, serak, batuk luka pada tenggorokan (ISFI, 2008).
Dosis:
200 μg 2 x sehari atau 100 μg 3-9 x sehari (pada kondisi berat dosis awal
600-800 μg sehari). Untuk anak – anak 50-100 μg 2-4 x sehari atau 100-200 μg 2
x sehari (Ikawati, 2011)
b). Budesonide
Diberikan
secara inhalasi karena diinaktifkan secara cepat dihati setelah diabsorbsi sitemik.
Obat ini hanya dapat digunakan pada penderita yang memerlukan pengobatan kronik
dengan kortikosteroid untuk mengontrol asma bronki atau pada keadaan
bronkodilator sudah tidak efektif lagi (Siswandono dan Soekardjo, 2008).
Efeknya
baru nyata setelah 10 hari dan mencapai puncaknya setelah beberapa minggu. Obat
yang diberikan per oral diserap dengan pesat dirombak untuk 90% dalam hati (Tan
dan Rahardja, 2002).
Efek
samping yang sering timbul yaitu sakit kepala, palpitasi, tremor, takikardia,
kram otot, suara parau (ISFI, 2008)
Dosis:
200 μg 2 x sehari, asma ringan: 200 μg sehari, asma berat: sampai 800 μg/hari.
Untuk anak – anak 200-800 μg sehari dalam dosis terbagi (Ikawati, 2011).
c). Flutikason
Propionat
Flutikason
propionat memiliki efek yang nyata setelah 1 minggu, daya kerjanya bertahan
lebih panjang dari kedua obat lainnya (plasma-t½nya 3 jam). Bagian dosis yang
diminum hanya diserap untuk sebagian kecil, kemudian dirombak dalam hati
menjadi metabolit inaktif (Tan dan Rahardja, 2002).
Efek
samping pada dosis tinggi (diatas 500 mcg/hari) ternyata menimbulkan efek
sistemis antara lain anak-anak dihambat pertumbuhannya.
Dosis:
pemeliharaan asma 2 dd 100-500 mcg (propionat), maksimal 2 mg sehari, anak-anak
4-16 tahun 2 dd 50-100 mcg (Tan dan Rahardja, 2002).
2). Golongan
Anti Alergika
a). Kromoglikat
Sangat
efektif sebagai obat pencegah serangan asma dan bronchitis yang bersifat
alergis dan alergi akibat bahan makanan. Obat ini perlu diberikan minimal 4 kali
sehari yang efeknya baru menjadi nyata sesudah 2-4 minggu. Penggunaannya tidak
boleh dihentikan dengan tiba-tiba berhubung dapat memicu serangan. Di dalam
usus tidak terjadi reabsorpsi. Senyawa ini hanya 5-10% mencapai bronchi dan
diserap, yang segera diekskresikan lewat kemih dan empedu secara utuh.
Plasma-t½nya 1,5-2 jam, tetapi efeknya bertahan 6 jam (Tan dan Rahardja, 2002)
Efek
samping yang sering terjadi iritasi ringan tenggorokan, mual, batuk dan
kadang-kadang kejang bronchi (ISFI, 2008).
Dosis:
inhalasi minimal 4 dd 1 puff (20 mg) sebagai serbuk halus dengan menggunakan
alat khusus (spinhaler), atau sebagai larutan (aerosol) (Tan dan
Rahardja, 2002).
b). Nedocromil
Merupakan
obat yang diduga menghalangi pelepasan sel peradangan dari sel mast. Obat ini
digunakan untuk mencegah terjadinya serangan, bukan untuk mengobati serangan.
Obat ini terutama efektif untuk anak-anak dan terutama untuk penyakit asma
karena olahraga (Prasetyo, 2006). Konsetrasi obat dalam plasma terlihat kurang
lebih 15 menit setelah inhalas, waktu paruhnya 25-100 menit (Ikawati, 2011)
Beberapa
efek samping obat ini antara lain sakit kepala, iritasi nasal, bronkospasme
sementara, batuk, tenggorokan kering, dan ruam kulit (Ikawati, 2011).
Dosis:
2-4 inhalasi 3-4 kali sehari.
3). Golongan
Beta2 Mimetika
a). Salbutamol
Bekerja
secara dominan sebagai perangsang β2-reseptor pada oto bronki
sehingga digunakan sebagai bronkodilator yang khas, dengan efek reseptor pada
jantung sangat kecil. Salbutamol digunakan untuk meringankan bronkospasma pada
asma bronki, bronkitis kronik dan emfisema. Salbutamol diabsorbsi dalam saluran
cerna dengan cepat, waktu paro plasma antara 2-7 jam, tergantung pada cara
pemberian (Siswandono dan Soekardjo, 2008)
Efek
samping biasanya berupa nyeri kepala, pusing-pusing, mual. Efek obat menurun
pada penggunaan yang terlalu sering (Tan dan Rahardja, 2002).
Dosis:
3-4 dd 2-4 mg (sulfat), inhalasi 3-4 dd 2 semprotan dari 100 mcg, pada serangan
akut 2 puff yang dapat diulang sesudah 15 menit. Pada serangan hebat i.m atau
s.c 250-500 mcg, yang dapat diulang sesudah 4 jam (Tan dan Rahardja, 20002).
b). Terbutalin
Terbutalin
mulai bekerja sesudah 1-2 jam sedangkan lama kerjanya kurang lebih 6 jam jika
diberikan per oral (Tan dan Rahardja,2002). Terbutalin juga tersedia untuk
injeksi subkutan. Diindikasikan untuk asma parah yang memerlukan pengobatan
darurat ketika bentuk aerosol tidak tersedia atau tidak efektif. Masa kerja
terbutalin yang lebih panjang jika pemberian injeksi yang berulang (Katzung, 2001).
Obat
diabsorbsi dalam saluran cerna dengan cepat, awal kerja ± 1 jam setelah
pemberian oral, efeknya mencapai maksimum setelah 2-3 jam dan berakhir setelah
± 7-8 jam (Siswandono dan Soekardjo, 2008).
Efek
samping yang timbu tremor otot rangka, kekakuan, gelisah, dan kadang kelelahan
(Katzung, 2001)
Dosis:
2,5 mg 3 x sehari, bisa dinaikkan sampai 5 mg 3 x sehari untuk dewasa. Untuk
anak-anak < 3 th: ½ sendok takar, 2-3 x sehari, 3-7 th: ½-1 sendok takar
(1,25 mg), 2-3 x sehari, 7-15 th: 1-2 sendok takar (2,5 mg), 2 x sehari
(Ikawati, 2011).
c). Salmeterol
Senyawa
long-acting ini kerjanya cepat (setelah 10-20 menit) dan bertahan selama
minimal 12 jam. Pada asma bronchial perlu dikombinasi dengan kortikoida
inhalasi. Bila perlu dapat diberikan bersama obat asma kerja singkat
(salbutamol) atau dengan suatu antikolinergikum (ipratropium, tiotropium) (Tan
dan Rahardja, 2002).
Efek
samping: sakit kepala, palpitasi, tremor, kram otot (ISFI, 2008).
Dosis:
50 μg (2 hirupan), 2 x sehari untuk dewasa sedangkan untuk anak-anak > 6 th:
50 μg (2 hirupan), 2 x sehari (Ikawati, 2011).
d). Aminofilin
Merupakan
bronkodilator yang paling efektif dan dapat meringankan obstruksi aliran udara
pada asma akut, mengurangi keparahan gejala (Katzung, 2001).
Efek
samping: obat ini berupa garam yang bersifat basa yang merangsang selaput
lendir sehingga mengakibatkan gangguan lambung (mual, muntah dan nyeri). Dosis:
oral 2-4 dd 175-350 mg dalam bentuk tablet salut (tanpa dikunyah). Pada
serangan hebat i.v 240 mg, rektal 2-3 dd 360 mg. Dosis maksimal 1,5 mg sehari
(Tan dan Rahardja, 2002).
e). Teofilin
Menstimulasi
sistim saraf pusat dan pernapasan serta bekerja diuretis lemah dan singkat,
berdaya spasmolitis terhadap otot polos khususnya otot bronchi (Tan dan
Rahardja, 2002). Teofilin juga bekerja melemaskan otot polos saluran napas dan
merangsangpusat pernapasan sehinggamengurangi penyempitan yang menyebabkan
penderita sesak napas (Pratyahara, 2011). Efek samping mual dan gelisah tapi
pada dosis yang lebih besar dapat mengalami palpitasi (jantung berdebar),
insomnia (sulit tidur), agitasi (kecemasan, ketakutan), muntah dan kejang
(Prasetyo, 2011). Dosis pada serangan i.v. 240
mg, rektal 2-3 dd 360 mg. Dosis maksimal 1,5 g sehari (Tan dan Rahardja,
2002).
4). Golongan
Adrenergika
a). Efedrin
Memiliki
efek sentral lebih kuat dengan efek bronchodilatasi lebih ringan dan bertahan
lebih lama (4 jam). Resorpsinya baik dalam waktu ½-1 jam sudah terjadi
bronchodilatasi. Ekskresi terutama lewat urin secara utuh. Plasma-t½-nya 3-6
jam (Tan dan Rahardja, 2002)
Efek
sampingnya dapat menimbulkan gejala seperti gelisah, nyeri kepala berdenyut,
tremor, dan palpitasi. Gejala ini dapat mereda dengan cepat setelah istirahat
(Arini dan Sulistia, 2007).
Dosis:
3-6 dd 25-50 mg, anak-anak 2-3 mg/kg/haridalam 4-6 dosis, dalam tetes hidung
(anti mampat) larutan 1%, tidak boleh digunakan untuk jangka waktu lama (Tan
dan Rahardja, 2002).
b). Isoprenalin
Bronkodilator
yang kuat ketika dihirup sebagai mikroaerosol dari pressurized canister dapat
menyebabkan bronkodilasi maksimum dalam 5 menit dan memiliki masa kerja 60
sampai 90 menit (Katzung, 2001).
Penggunaan sebagai obat asma sudah terdesak
oleh adrenergika dengan khasiat spesifik terhadap reseptor-β2
(bronchi) dan praktis tanpa efek terhadap β1 (jantung), sehingga
lebih jarang menimbulkan efek samping (Tan dan Rahardja, 2002).
Dosis:
4 dd 20 mg (sulfat), i.m atau s.c 0,5 mg yang dapat diulang setelah ½ jam,
inhalasi 3-4 dd 2 semprotan (Tan dan Rahardja, 2002).
5). Golongan
Antikolinergika
a). Ipratropium
Ipratropium
berdaya mengurangi hipersekresi di bronchi, yakni ‘efek mengeringkan’ dari obat
antikolinergika, maka sangat efektif untuk pasien yang mengeluarkan banyak
dahak. Efek maksimalnya dicapai setelah 1-2 jam dan bertahan rata-rata 6 jam
(Tan dan Rahardja, 2002).
Efek
sampingnya jarang terjadi dan biasanya berupa mulut kering, mual, nyeri kepala,
dan pusing (Tan dan Rahardja, 2002).
Dosis:
inhalasi 3-4 dd 2 semprotan dari 20 mcg (bromida).
6). Antagonis
Leukotriën
a). Zafirlukast
Melindungi
terhadap bronchokonstriksi dan peradangan yang ditimbulkan oleh perbagai
stimuli, seperti mengeluarkan tenaga, hawa dingin,dan berbagai alergen.
Resorpsinya dari usus dikurangi oleh makanan dengan 40%, maka harus diminum
pada perut kosong. Masa paruhnya 10 jam sehingga asma berkurang sesudah
beberapa hari sampai 1 minggu (Tan dan Rahardja, 2002).
Efek
samping: mual, muntah, sakit punggung, sakit kepala (ISFI, 2008)
Dosis:
permulaan 2 dd 20 mg a.c, berangsur-angsur dinaikkan sampai 2 dd 40 mg,
anak-anak 7-12 tahun 2 dd 10 mg a.c (Tan dan Rahardja, 2002).
b). Montelukast
Berkhasiat
menghambat reaksi alergis, baik yang dini maupun yang lambat, juga menurunkan eosinofil dalam darah (seperti
kortikoida). Digunaka sebagai terapi asma untuk prevensi serangan asma setelah
kegiatan yang meletihkan dan dapat memberikan efek setelah 2 jam. Resorpsinya
cepat dengan BA 73% yang tidak dipengaruhi oleh makanan, t½-nya kurang lebih 4
jam, ekskresinya terutama dengan tinja (Tan dan Rahardja, 2002).
Efek
sampingnya yang tersering adalah gangguan saluran cernadan sakit kepala, gejala
flu, pusing, mulut kering dan rash (kulit) (Tan dan Rahardja, 2002).
Dosis:
diatas 15 tahun 1 tablet kunyah (10 mg) sebelum tidur dengan perut kosong.
Anak-anak 6-14 tahun 5 mg (Tan dan Rahardja, 2002).
7). Golongan
Antihistaminika
a). Ketotifen
Zat
ini sama efektifnya dengan kromoglikat pada profilaksis asma yang bersifat
alergi. Efeknya baru nyata sesudah 6 minggu maka tidak berguna pada serangan
asma akut. Resorpsinya dari usus cepat dan baik (lebih dari 90%) (Tan dan
Rahardja, 2002).
Efek
samping: pusing, sakit kepala, mulut kering, mengantuk (ISFI, 2008).
Dosis:
malam hari 1 mg selama 1 minggu, lalu 2 dd 1-2 mg (Tan dan Rahardja, 2002).
b). Oksatomida
Berkhasiat
memblokir reseptor histamin, serotonin dan leukotrien di otot juga
menstabilisasi mastcells. Dianjurkan sebagai obat pemeliharaan dan pencegah
asma alergis. Resorpsinya dari usus cepat, PP-nya 90% dan metabolisasinya dalam
hati berlangsung cepat. Ekskresinya berlangsung lewat kemih (Tan dan Rahardja, 2002)
Efek
sampingnya rasa kantuk dan bertambahnya napsu makan. Dosis: 2 dd 30-60 mg
sesudah makan (Tan dan Rahardja, 2002).
8). Golongan Mukolitik
a). Bromheksin
Resorpsinya
dari usus baik, mulai kerjanya per oral sesudah kurang lebih 5 jam, sedangkan
sebagai inhalasi sesudah 15 menit. Efek sampingnya berupa gangguan saluran
cerna, perasaan pusing dan berkeringat (Tan dan Rahardja, 2002). Dosis: dewasa
8 mg, 3-4 x sehari dan untuk anak-anak > 10 tahun: 8 mg, 3 x sehari dan 3-10
tahun: 4 mg, 3 x sehari (Ikawati, 2011).
b). Asetilsistein
Berkhasiat
mencairkan dahak yang liat dengan jalan memutuskan jembatan disulfida.
Distribusinya dalam tubuh baik dengan mencapai kadar tinggi antara lain di
saluran pernapasan sedangkan ekskresinya berlangsung melalui kemih. Efek
sampingnya paling sering adalah mual dan muntah. Dosis: oral 3-6 dd 200 mg atau
1-2 dd 600 mg granulat, anak-anak 2-7 tahun2 dd 200 mg, dibawah 2 tahun 2 dd 100 mg (Tan dan
Rahardja, 2002).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar