Selasa, 04 April 2017

Obesitas



Obesitas; Bikin Kurang PD

Halo teman-teman,
Apa kabar.? Masih semangat? Hehehe ….sudah absen beberapa hari dari blog ini karena tugas yang begitu banyak menyita perhatian saya. Malam ini saya menyempatkan diri untuk menulis tentang Obesitas. Kenapa..? Ada beberapa teman saya sering bertanya tentang suplemen yang bisa menurunkan berat badan dan bagaimana kiat-kiat agar bisa menurunkan berat badan. Kedengarannya asyiiik. Menarik memang. Sebagian orang sementara berusaha untuk menaikkan berat badan, yang lain malah kelebihan berat badan. Hehehehehehe …. ! bukannya gemuk itu tanda sukses?  

Yuk….kita simak apa sih sebenarnya Obesitas itu.?

Obesitas oleh orang awam diidentik dengan kelebihan berat badan atau kegemukan. Namun, secara medis obesitas didefenisikan sebagai kelebihan lemak didalam tubuh atau kelebihan berat badan diatas normal. Untuk mengetahui seseorang mengalami obesitas atau  tidak dapat dilakukan dengan cara mengukur BMI (body mass index) yang didasarkan pada pengukuran berat badan dibagi tinggi badan dalam kuadrat. Sebagai contoh jika berat badan seseorang adalah 66 kilogram dan tingginya adalah 1,65 meter, maka penghitungannya adalah 66/(1,65 X 1,65) = 24,2. Hasil ini termasuk ke dalam kategori berat badan sehat atau normal karena masih berkisar antara 18,5 sampai 24,9.
Jika hasil akhir penghitungan BMI Anda kurang dari 18,5 maka Anda dianggap kekurangan berat badan. Sebaliknya, jika hasilnya lebih dari 24,9 maka Anda dianggap kelebihan berat badan. Seseorang dinyatakan mengalami obesitas jika memiliki hasil perhitungan BMI di antara 30-39,9. Selanjutnya, seseorang dianggap mengalami obesitas ekstrem jika hasil akhir BMI di atas 40. Ayo teman-teman coba sekarang ukur BMI kalian…..Mungkin saja anda termasuk dalam kategori obesitas tapi tidak disadari…..hehehehe…..!

Penyebab Obesita,  Apa Saja….??

Obesitas umumnya dapat terjadi ketika kita sering mengonsumsi makanan berkalori tinggi. Sebenarnya mengonsumsi makanan berkalori tinggi tidak selalu menjadi masalah asalkan sesuai dengan aktivitas yang dilakukan tiap harinya. Namun, jika kita lebih banyak menghabiskan waktu dengan duduk dan tidak diimbangi oleh aktif berolahraga, maka sisa energi dari hasil pembakaran kalori tersebut akan disimpan di tubuh dalam bentuk lemak. Lambat laun, penumpukan lemak tersebut akan bertambah dan membuat tubuh terlihat membesar alias gemuk.
Selain akibat makanan tinggi kalori dan kurangnya melakukan olahraga, obesitas juga bisa terjadi karena:
  • Faktor keturunan (genetik); Obesitas umumnya cenderung bersifat menurun dalam keluarga, yang menunjukkan adanya pengaruh faktor genetik. Tak hanya masalah genetik, keluarga umumnya juga “menurunkan” pola makan dan gaya hidup yang bisa berkontribusi terhadap kejadian obesitas
  • Faktor Lingkungan; mudah mendapatkan makanan siap saji yang umumnya kadar kolestrolnya tinggi, kurangnya aktivitas fisik dan pemilihan makanan yang berkalori tinggi.
  • Factor Psikologis; Rasa rendah diri, rasa bersalah, stres emosional, atau trauma dapat menyebabkan makan berlebihan sebagai sarana untuk mengatasi masalah.
  • Penyebab lain; Selain tiga faktor di atas, penyebab lain obesitas bisa berupa penyakit atau penggunaan obat tertentu. Penyakit hypotiroid, Cushing’s syndrome, dan depresi dapat memicu makan berlebihan. Beberapa obat seperti steroid dan antidepresan tertentu juga memiliki efek samping peningkatan berat badan.
Obesitas, Apa bisa diatasi…??

Jawabannya bisa dong. Intinya kita membatasi makan yang berkalori tinggi dan tingkatkan aktivitas fisik agar asupan kalori bisa seimbang dalam tubuh. Mengubah gaya hidup, perbanyak olahraga, ubah pola makan yang tadinya mungkin banyak makanan berlemak (seperti gorengan, jeroan) kini diperbanyak dengan buah-buahan, Hindari konsumsi alcohol, Jangan terlalu keras pada diri sendiri sampai tidak mau makan, ini bukan suatu metode yang tepat. Tetap makan, namun ganti menunya menjadi menu sehat. Jangan coba-coba meminum obat diet tanpa resep dokter, karena ditakutkan akan melukai lambung maupun usus, dan justru akan mengakibatkan metabolisme tubuh kacau.

Penanganan Obesitas Menggunakan Obat

Penanganan obesitas dengan obat biasanya akan disarankan oleh dokter apabila berat badan tidak berhasil diturunkan oleh penerapan pola hidup sehat semata. Pemberian obat juga biasanya hanya akan dilakukan dokter jika BMI Anda mencapai angka 28 atau lebih, dan Anda memiliki penyakit diabetes atau hipertensi. Obat – Obat yang sering dipakai antara lain:

1.      Orlistat (Xenical)
Obat yang sering kali diresepkan oleh dokter untuk menangani obesitas adalah obat yang mangandung orlistat. Obat ini bekerja di dalam saluran pencernaan dengan cara memblokir penyerapan lemak oleh tubuh. Efek samping penggunaan orlistat tergolong ringan, yaitu pusing, nyeri perut, perut kembung, serta menjadi sulit menahan dan sering buang air besar. Tinja seseorang yang mengonsumsi obat ini tampak seperti berminyak. Hal ini disebabkan oleh pembuangan lemak yang tidak terserap oleh tubuh. Jika orlistat berhasil menurunkan lima persen berat badan dalam waktu tiga bulan, penggunaan obat ini sebaiknya diteruskan. Namun jika dalam jangka waktu tersebut tidak ada penurunan berat badan yang berarti, maka obat ini tidak efektif untuk Anda dan sebaiknya Anda menemui dokter kembali untuk dicarikan solusi alternatif.
2.      Sibutramin (Meridia, Reductil)
Obat ini bekerja secara sentral menekan nafsu makan, dengan mengatur ketersediaan neurotransmiter di otak, yaitu menghambat re-uptake serotonin dan norepinefrin. Namun obat ini harus digunakan secara hati-hati karena dapat meningkatkan tekanan darah, menyebabkan mulut kering, konstipasi, sakit kepala dan insomnia.
3.      Diuretik
Obat-obat diuretik (pelancar air seni) juga sering dipakai sebagai obat pelangsing. Tapi sebenarnya efeknya tidaklah signifikan dalam mengurangi berat badan. Justru penggunaannya harus diperhatikan karena dapat mengganggu keseimbangan elektrolit dalam tubuh karena banyak ion-ion tubuh yang mungkin akan terbawa melalui urin. Jika berat badannya disebabkan karena timbunan cairan, maka diuretik memang pilihan yang tepat, tetapi jika karena timbunan lemak, tentu diuretik tidak akan berefek signifikan.
4.      Obat-Obat Herbal Pelangsing
Salah obat herbal yang sering dipakai untuk pelangsing adalah Jati Belanda. Senyawa tanin yang banyak terkandung di bagian daun, mampu mengurangi penyerapan makanan dengan cara mengendapkan mukosa protein yang ada dalam permukaan usus. Sementara itu, musilago yang berbentuk lendir bersifat sebagai pelicin. Dengan adanya musilago, absorbsi usus terhadap makanan dapat dikurangi. Hal ini yang yang menjadi alasan banyaknya daun jati belanda yang dimanfaatkan sebagai obat susut perut dan pelangsing.

Jika obesitas merupakan gejala atau komplikasi dari penyakit yang sedang Anda derita, misalnya diabetes, hipertensi, apnea tidur obstruktif, atau sindrom ovarium polikistik, maka dokter akan menyesuaikan pengobatan dengan kondisi yang mendasari tersebut. Dalam kasus seperti ini, pengobatan biasanya penderita akan dirujuk ke spesialis yang berkaitan.
Nah, sekarang pintar-pintarnya kita aja mau pilih cara alami atau dengan obat…??  Ingat! Obesitas membuat Anda rentan terhadap berbagai penyakit, termasuk diabetes, penyakit jantung, dan kanker. Tapi saya juga salah satu yang sering susah nahan ngemil loh teman-teman…hehehehehe. Gendut dikit gak masalah…..! Mungkin begitulah kata-kata penghiburan yang tepat…….
Semoga…….!

Sumber Bacaan:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Penggolongan Obat Halo teman-teman,  Berbicara mengenai Penggolongan Obat mungkin sudah tak asing lagi. Mulai dari Golongan Obat B...