Sabtu, 08 April 2017

Kemoterapi



Kemoterapi: Membantu Atau Memperparah….??


Halo teman-teman,
Tulisan ini saya persembahkan kepada sahabat-sahabat saya yang sementara bergulat dengan penyakit kanker. Dimanapun kalian berada, entah yang telah tiada, yang masih berusaha atau berjuang dan sudah survive dari Kanker. Kalian semua adalah sahabat-sahabat saya. Suatu kebanggaan untuk saya karena bisa berbagi untuk sahabat sekalian yang sudah sabar menjalani ujian dari Tuhan. Apapun keadaannya tetap semangat dan tetap berusaha karena setiap kejadian dalam hidup kita adalah keputusan dari Yang Maha Kuasa.
“Kemoterapi“, mungkin istilah ini sering terdengar oleh kita, baik melalui omongan orang-orang di sekitar kita ataupun dari media elektronik, televisi misalnya. Terlebih ketika ada artis yang menjalani terapi kemo ini, wah pasti banyak yang ingin tahu sebenarnya apa itu kemoterapi?

Apa itu Kemoterapi?

Kemoterapi adalah salah satu prosedur perawatan yang paling umum diberikan untuk kanker. Terapi ini mengandalkan kemampuan dari obat-obat khusus untuk menghancurkan sel-sel kanker yang menyerang tubuh. Obat tesebut bekerja dengan memperlambat maupun menghentikan pertumbuhan sel kanker. Terapi kanker dengan operasi dan radiasi akan membunuh, atau merusak sel-sel kanker pada daerah tertentu saja pada tubuh, sedangkan kemo dapat mencapai seluruh area tubuh. Kemoterapi dapat membunuh sel-sel kanker yang telah menyebar atau metastase, di mana kanker sudah menyebar jauh dari asal tumornya (tumor primer).
Jenis-jenis kanker yang cukup banyak dijumpai di Indonesia adalah : kanker leher rahim (kanker serviks), kanker payudara, penyakit Trofoblas ganas, kanker kulit, kanker nasofaring, kanker paru, kanker hati, kanker kelenjar getah bening (Limfoma Malignum), kanker usus besar dan kanker darah (Leukemia).
Untuk masing-masing jenis kanker ada regimen kemoterapinya sendiri.
Di bawah ini adalah daftar beberapa obat yang sering diberikan dalam regimen kemoterapi.
1. Cyclophosphamide (Cytoxan)
2. Doxorubicin (Adriamycin) atau Epirubicin (Ellence)
3. 5-fluorouracil (Adrucil)
4. Methotrexate (Rheumatrex)
5. Paclitaxel (Taxol) atau Docetaxel (Taxotere)
Tujuan Kemoterapi
Tergantung pada jenis kanker dan stadiumnya, tujuan kemoterapi adalah untuk:
·         Menyembuhkan kanker secara menyeluruh.
·         Mencegah kanker agar tidak menyebar.
·         Memperlambat pertumbuhan kanker itu sendiri.
·         Membunuh sel kanker yang mungkin telah menyebar ke bagian lainnya.
·         Meredakan atau menguragi gejala yang disebabkan oleh kanker.
Jadi, bukan berarti bahwa ketika menjalani kemoterapi, maka semua tujuan di atas dapat terpenuhi, karena akan sangat bervariasi tergantung jenis dan stadium kanker.

Jenis-Jenis Kemoterapi
Berikut adalah jenis kemoterapi:
a)      Kemoterapi kuratif, yaitu pengobatan kemoterapi yang ditujukan untuk membasmi serta menghancurkan semua sel kanker yang ada di dalam tubuh. Biasanya dilakukan ketika di awal pengobatan dan terkadang menjadi satu-satunya jenis pengobatan yang dilakukan.
b)      Kemoterapi adjuvan adalah kemoterapi yang biasa dilakukan setelah melakukan pengobatan kanker lainnya, seperti operasi atau radiasi. Cara ini bertujuan untuk menghilangkan sisa-sisa sel kanker yang mungkin masih tertinggal dan belum bisa diatasi oleh pengobatan sebelumnya.
c)      Kemoterapi neoadjuvan, yaitu kemoterapi yang diberikan pada pasien sebelum mereka melakukan pengobatan lain. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi sel kanker atau mengurangi ukuran tumor yang ada, sehingga mudah untuk melakukan pengangkatan tumor ketika operasi.
d)      Kemoterapi paliatif, merupakan jenis kemoterapi yang diberikan pada pasien yang mengalami kanker dengan stadium lanjut. Tujuan dari kemoterapi paliatif adalah meringankan gejala yang ditimbulkan sel kanker, menghambat perkembangan sel kanker, dan meningkatkan kualitas hidup pasien.
Efek Samping Kemoterapi
Efek samping kemoterapi muncul karena obat-obatan tersebut tidak memiliki kemampuan membedakan sel kanker yang berkembang pesat dengan sel sehat yang secara normal juga memiliki perkembangan pesat. Misalnya sel darah, sel kulit, serta sel-sel yang ada di dalam perut sehingga kemoterapi memiliki efek negatif. Berikut adalah gejala efek samping yang bisa terjadi akibat kemoterapi:
a.    Rasa Sakit
Nyeri yang sering terjadi pada saat melakukan Kemoterapi adalah sakit kepala, nyeri otot, sakit perut dan nyeri akibat kerusakan saraf (misalnya, rasa terbakar). Rasa nyeri biasanya berkurang seiring waktu. Namun, pada beberapa pasien yang mengalami kerusakan saraf permanen, yang menyebabkan rasa sakit selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun selama pengobatan.
b.    Sariawan dan Luka Pada Tenggorokan
Kemoterapi dapat merusak sel-sel di mulut dan tenggorokan karena jenis sel yang ada di mulut dan tenggorokan/kerongkongan adalah jenis sel yang tumbuh, berkembang dan berganti dengan cepat, dan obat-obat kemoterapi mudah merusak sel-sel jenis ini, maka daerah mulut dan tenggorokan/kerongkongan menjadi mudah luka atau kering. Hal ini akan menyebabkan luka yang disebut Mukositis. Sebelum melakukan kemoterapi sebaiknya lakukan pemeriksaan gigi. Gigi harus dibersihakan sebelum dan sesudah melakukan kemoterapi menggunakan sikat gigi yang berbahan lunak dan hindari obat kumur berbahan alcohol tinggi.
c.    Diare
Beberapa obat kemoterapi dapat menyebabkan diare. Hal ini dapat dicegah dengan mengatur pola makan agar terhindar dari dehidrasi (kehilangan cairan dalam tubuh).
d.    Mual/Muntah
Efek samping yang sering dijumpai dalam pemberian obat kemoterapi adalah mual/muntah.  Hal ini bias terjadi beberapa saat setelah kemoterapi, atau sehari sesudah kemoterapi bahkan lebih. Solusi yang biasa diberikan oleh dokter  adalah dengan pemberian obat anti mual/muntah (golongan anti emetic) sebelum atau sesudah kemoterapi atau pada saat kemoterapi berlangsung.
e.    Kelainan Darah
Sumsum tulang adalah jaringan spons yang membuat sel-sel darah baru. Kemoterapi mempengaruhi proses ini sehingga pasien mungkin memiliki efek samping yaitu memiliki terlalu sedikit sel darah. Sel darah merah bertanggung jawab membawa oksigen keseluruh bagian tubuh agar tubuh tidak mengalami kekurangan sel darah merah. Apabila tubuh kekurangan sel darah merah akan mengakibatkan kelelahan, pusing dan lesu.
f.     Rambut Rontok (Aloecia atau Kebotakan)
Sel-sel folikel rambut adalah salah satu sela yang membelah dengan cepat dalam tubuh. Selama pengobatan, rambut bisa saja menipis atau rontok sama sekali, bergantung pada obat anti-kanker apa yang di berikan. Alis, bulu mata dan rambut di bagian tubuh lain juga bisa rontok. Rambut akan tumbuh kembali begitu pengobatan berakhir. Rambut yang baru saja tumbuh sesudah kemoterapi selesai, biasanya mempunyai tekstur dan warna yang lain dari rambut sebelum kemoterapi.Selama pengobatan, jika rambut tidak rontok sama sekali dan hanya menipis, gunakan shampoo yang lembut, sisir yang halus dan atur pengering rambut yang digunakan pada panas yang paling rendah. Beberapa perempuan memilih untuk memotong pendek rambutnya menjelang kemoterapi, agar supaya merasa lebih baik dengan merasa mengontrol keadaan yang dihadapi. Jika memillih memakai rambut palsu (wig), kebih baik disiapkan sebelum rangkaian kemoterapi dimulai, sehingga warna dan style wig bisa disesuaikan dengan rambut asli.
g.    Menapouse Dini
Kemoterapi dapat mengakibatkan organ seksual pada pria maupun wanita. Obat-obat kemoterapi dapat menurunkan jumlah sperma sehingga dapat menyebakan infertilitas sementara atau permanen. Pada wanita obat kemoterapi dapat mempengaruhi ovarium dan hormone sehingga dapat menyebabkan menapouse dini. Gejala lain yang timbul adalah vagina menjadi lebih kering dari biasanya.Bagi mereka yang sudah dekat dengan usia menopause (45 tahun atau lebih tua dari 45 tahun), gejala-gejala ini bisa menetap. Sementara bagi mereka yang lebih muda, gejala-gejala ini bisa hanya sementara, yang di tandai dengan kembalinya menstruasi.
h.    Mudah Terkena Infeksi
Orang yang sedang menjalani kemoterapi rentan untuk terkena infeksi karena berkurangnya sel darah putih (leucopenia) sehingga menyebabkan system kekebalan tubuh menurun. Sel darah putih adalah pasukan pelawan bakteri atau kuman. Hal terjadi pada minggu kedua setelah kemo dan dapat dilihat dengan pemeriksaan darah.Karena itu sebaiknya hindarkan berdekatan dengan orang yang dengan sakit menular.Lebih sering mencuci tangan dengan sabun bisa mencegah infeksi.Jika terluka, segera bersihkan luka dengan air bersih/anti septik
i.     Kuku Yang Rapuh
Beberapa jenis obat anti-kanker dapat menyebabkan kerapuhan pada kuku jari tangan dan jari kaki.Kuku bisa mudah pecah dan rusak, bahkan terasa sakit dan lalu lepas. Seperti rambut yang rontok, masalah dengan kuku ini hanya sementara saja.

Jangan Takut Kemoterapi…..!!
Mengobati penyakit berbahaya seperti kanker tidaklah mudah, termasuk saat menjalani sesi kemoterapi. Sedapat mungkin untuk menghindari hal-hal yang dapat meningkatkan resiko yang mengganggu proses pengobatan berjalan optimal. Kemoterapi merupakan salah satu terapi standar untuk pasien kanker di hampir seluruh belahan dunia yang sampai saat ini masih dilakukan karena dianggap dapat membuat pasien kanker pulih dari penyakitnya. Sehingga, kemoterapi masih dianjurkan. Hanya yang perlu dilakukan adalah penanganan efek samping yang timbul agar tidak menurunkan status kesehatan pasien. Hal ini bias dibantu dengan asupan makanan yang kuat, tidak kurang, serta mengkonsumsi makanan yang sehat untuk memperkecil efek samping yang mungkin ditimbulkan dari kemoterapi. Efek samping yang disebut diatas masih jauh lebih kecil bila dibandingkan dengan manfaat kemoterapi. Jadi, jangan takut untuk melakukan kemoterapi hanya karena takut dengan efek samping timbul. Karena apabila semakin menunda untuk melakukan kemoterapi, dapat menyebabkan sel kanker tumbuh semakin banyak daa ketika akan akan dilakukan kemoterapi ternyata pasien sudah masuk dalam stadium lanjut sehingga bias meminimalkan keberhasilan kemoterapi. Orang – orang cendrung untuk mencari pengobatan alternatife dibanding kemoterapi tapi bagaimanapun juga jika memutuskan untuk menggunakan pengobatan alternatife apakah bisa dijamin keberhasilannya?
Jangan takut kemoterapi. Kemoterapi tidak membunuhmu tetapi usaha menyelamatkan. Catatan hidup kita sudah diselesaikan Yang Maha Kuasa sebelum kita hadir didunia ini. Mari kita berusaha…..
Semoga…….!!


Sumber bacaan:

Kamis, 06 April 2017

Obat Off Label



Obat Off Label: Apa Itu…?


Halo temen-teman,
Pernahkah anda mendengar bahwa metformin (suatu antidiabetika oral) sering diresepkan untuk Polysistic Ovary Syndrom? Atau bahwa ketotifen (suatu anti histamine) sering diresepkan sebagai perangsang napsu makan untuk anak-anak? Atau misoprostol (suatu obat ulcus peptic) diresepkan sebagai penginduksi persalinan? Sertraline (suatu obat anti depresan) bisa digunakan untuk mengatasi ejakulasi pada pria? Atau amitriptilin (suatu obat anti depresi juga) dipakai untuk mengobati nyeri neuropatik? Ini adalah contoh-contoh penggunaan obat off label. Apa itu obat off label…? Mari kita pelajari lebih lanjut….
Obat Off Label
Penggunaan obat off-label adalah penggunaan obat di luar indikasi yang disetujui oleh lembaga yang berwenang. Lembaga berwenang itu kalau di Amerika adalah Food and Drug Administration (FDA), sedangkan di Indonesia adalah Badan POM. Tetapi karena umumnya obat-obat yang masuk ke Indonesia adalah obat impor yang persetujuannya dimintakan ke FDA, maka bisa dibilang bahwa indikasi yang dimaksud adalah indikasi yang disetujui oleh FDA.
Perlu diketahui bahwa sebelum obat dipasarkan, mereka harus melalui uji klinik yang ketat, mulai dari fase 1 sampai dengan 3. Uji klinik fase 1 adalah uji pada manusia sehat, untuk memastikan keamanan obat jika dipakai oleh manusia. Uji klinik fase 2 adalah uji pada manusia dengan penyakit tertentu yang dituju oleh penggunaan obat tersebut, dalam jumlah terbatas, untuk membuktikan efek farmakologi obat tersebut. Uji klinik fase 3 adalah seperti uji klinik fase 2 dengan jumlah populasi yang luas, biasanya dilakukan secara multi center di beberapa kota/negara. Jika hasil uji klinik cukup meyakinkan bahwa obat aman dan efektif, maka produsen akan mendaftarkan pada FDA untuk disetujui penggunaannya untuk indikasi tertentu.  
Obat Off Label; Mengapa diresepkan?
Munculnya obat-obat off label karena dokter dan peneliti lainnya menemukan indikasi lain dan dokter memiliki hak prerogratif untuk meresapkan obat tersebut. Nah, seringkali ada dokter yang menuliskan obat-obat untuk indikasi-indikasi yang belum diujikan secara klinik. Hal ini yang disebut penggunaan obat off label. Atau bisa jadi, obat mungkin sudah ada bukti-bukti klinisnya tetapi memang tidak dimintakan approval kepada lembaga berwenang karena berbagai alasan (misalnya alasan finansial), maka penggunaannya pun dapat dikatakan penggunaan off label.
Contoh – Contoh Obat Off Label
Penggunaan obat off label sendiri ada 2 jenis yaitu:
a.       Obat disetujui untuk mengobati penyakit tertentu tetapi kemudian digunakan untuk penyakit yang sama sekali berbeda. Misalnya amitriptilin yang disetujui sebagai anti depresi, digunakan untuk mengatasi nyeri neuropatik.
b.      Obat disetujui untuk mengobati penyakit tertentu namun kemudian diresepkan untuk keadaan yang masih terkait tetapi diluar spesifikasi yang telah disetujui. Contohnya Viagra yang indikasikan untuk mengatasi disfungsi ereksi pada pria, tetapi digunakan untuk meningkatkan gairah seksual pada pria walaupun mereka tidak mengalami disfungsi ereksi atau impotensi.
Beberapa contoh lain penggunaan obat off label adalah:
§  Levamisol, obat-obat antikonvulsan generasi baru untuk mengatasi nyeri neuropati, sebagai obat off label diindikasikan sebagai imunomodulator.
§  Siproheptadine, antihistamin sebagai obat off label diindikasikan sebagai penambah napsu makan.
§  Vitamin A pada anak sebagai obat off label diindikasikan untuk memperbaiki mukosa saluran cerna pada kasus diare pada anak.
§  Carbamazepine, suatu obat anti epilepsy banyak dipakai sebagai mood stabilizer.
§  Gabapentin, disetujui sebagai anti kejang dan neuralgia (nyeri saraf) post herpes, banyak dipakai sebagai off label untuk gangguan bipolar, tremor/gemetar, pencegah migraine, nyeri neuropatik, dll.

Bermanfaatkah Obat Off Label?
Pengobatan off label tidak selalu buruk dan merugikan, pengobatan ini sangat bermanfaat ketika pasien telah kehabisan opsi dalam terapinya, misalnya dalam kasus kanker. American Society Cancer mengatakan bahwa pengobatan kanker sering melibatkan penggunaan obat kemoterapi off label. Hal ini disebabkan karena satu jenis obat kanker hanya disetujui untuk satu jenis obat kanker saja. Penggunaan obat kanker off label secara kombinasi sering digunakan untuk terapi standar kanker.
Apa Resiko Penggunaan Obat Off Label?
Dikalangan medis atau dokter, penggunaan obat off label masih menjadi perdebatan, dokter mengakui bahwa penggunaan obat off label berperan didalam praktek medis. Tetapi mereka juga menyadari bahwa menggunakan obat off label meningkatkan resiko tuntutan hokum apabila efek samping atau sampai timbulnya penyakit baru (memperburuk kondisi penyakit). Mengingat bahwa penggunaan obat off label diluar indikasi yang tertulis dalam label yang belum mendapat persetujuan dari badan yang berwenang (FDA atau BPOM). Produsen obat tidak akan bertanggungjawab atas terjadinya efek samping atas penggunaan obat off label tersebut. Sebenarnya penggunaan obat label adalah sah-sah saja, selama disertai dengan bukti klinis dan merupakan opsi terakhir. Beberapa penggunaan obat off label sudah disertai bukti klinis atau penelitian dan sebagian besar belum. Hal ini tentu akan sangat merugikan pasien apabila penggunaan obat off label belum disertai uji klinis dan menimbulkan efek samping kejadian berbahaya atau bahkan menimbulkan penyakit baru.
Bagaimana Peran Farmasis?
Dengan adanya obat – obat off label, farmasis harus berhati-hati memberikan informasi kepada pasien. Hendaknya informasi yang diberikan kepada pasien tidaklah salah sehingga tidak menimbulkan kekhawatiran kepada pasien atau hal-hal lain yang tidak diinginkan. Kurangnya informasi mengenai obat-obat off label ini oleh farmasis tentunya bisa menimbulkan kesalahan penafsiran dan tujuan dari peresapan obat itu sendiri. Apabila ditemukan suatu obat yang kelihatannya tidak sesuai dengan indikasi, sebaiknya tidak langsung menyimpulkan bahwa pengobatan tidak rasional, karena bisa jadi ada bukti-bukti klinis mengenai penggunaan obat tersebut yang belum dimintakan persetujuan dan masih dalam tahap investigational. Farmasis sangat perlu memperluas wawasan dan selalu meng-update pengetahuan mengenai obat-obat baru maupun bukti-bukti klinis baru sebagai implementasi salah satu tugas farmasis “Life Long Learner”.
So, bagi para apoteker dan calon apoteker mari memperluas wawasan dan selalu meng-update pengetahuan tentang obat – obatan yang sangat cepat perkembangannya.
Semoga bermanfaat…………

Sumber Bacaan:
Anny Purba Victor. 2007. Penggunaan Obat Off Label Pada Pasien Anak. Buletin Penelitian Kesehatan Vol.35 No.2 2007:90-97.
Pharmacoepidemiology and drug safety 2009; 18: 1094-1100.

Selasa, 04 April 2017

Obesitas



Obesitas; Bikin Kurang PD

Halo teman-teman,
Apa kabar.? Masih semangat? Hehehe ….sudah absen beberapa hari dari blog ini karena tugas yang begitu banyak menyita perhatian saya. Malam ini saya menyempatkan diri untuk menulis tentang Obesitas. Kenapa..? Ada beberapa teman saya sering bertanya tentang suplemen yang bisa menurunkan berat badan dan bagaimana kiat-kiat agar bisa menurunkan berat badan. Kedengarannya asyiiik. Menarik memang. Sebagian orang sementara berusaha untuk menaikkan berat badan, yang lain malah kelebihan berat badan. Hehehehehehe …. ! bukannya gemuk itu tanda sukses?  

Yuk….kita simak apa sih sebenarnya Obesitas itu.?

Obesitas oleh orang awam diidentik dengan kelebihan berat badan atau kegemukan. Namun, secara medis obesitas didefenisikan sebagai kelebihan lemak didalam tubuh atau kelebihan berat badan diatas normal. Untuk mengetahui seseorang mengalami obesitas atau  tidak dapat dilakukan dengan cara mengukur BMI (body mass index) yang didasarkan pada pengukuran berat badan dibagi tinggi badan dalam kuadrat. Sebagai contoh jika berat badan seseorang adalah 66 kilogram dan tingginya adalah 1,65 meter, maka penghitungannya adalah 66/(1,65 X 1,65) = 24,2. Hasil ini termasuk ke dalam kategori berat badan sehat atau normal karena masih berkisar antara 18,5 sampai 24,9.
Jika hasil akhir penghitungan BMI Anda kurang dari 18,5 maka Anda dianggap kekurangan berat badan. Sebaliknya, jika hasilnya lebih dari 24,9 maka Anda dianggap kelebihan berat badan. Seseorang dinyatakan mengalami obesitas jika memiliki hasil perhitungan BMI di antara 30-39,9. Selanjutnya, seseorang dianggap mengalami obesitas ekstrem jika hasil akhir BMI di atas 40. Ayo teman-teman coba sekarang ukur BMI kalian…..Mungkin saja anda termasuk dalam kategori obesitas tapi tidak disadari…..hehehehe…..!

Penyebab Obesita,  Apa Saja….??

Obesitas umumnya dapat terjadi ketika kita sering mengonsumsi makanan berkalori tinggi. Sebenarnya mengonsumsi makanan berkalori tinggi tidak selalu menjadi masalah asalkan sesuai dengan aktivitas yang dilakukan tiap harinya. Namun, jika kita lebih banyak menghabiskan waktu dengan duduk dan tidak diimbangi oleh aktif berolahraga, maka sisa energi dari hasil pembakaran kalori tersebut akan disimpan di tubuh dalam bentuk lemak. Lambat laun, penumpukan lemak tersebut akan bertambah dan membuat tubuh terlihat membesar alias gemuk.
Selain akibat makanan tinggi kalori dan kurangnya melakukan olahraga, obesitas juga bisa terjadi karena:
  • Faktor keturunan (genetik); Obesitas umumnya cenderung bersifat menurun dalam keluarga, yang menunjukkan adanya pengaruh faktor genetik. Tak hanya masalah genetik, keluarga umumnya juga “menurunkan” pola makan dan gaya hidup yang bisa berkontribusi terhadap kejadian obesitas
  • Faktor Lingkungan; mudah mendapatkan makanan siap saji yang umumnya kadar kolestrolnya tinggi, kurangnya aktivitas fisik dan pemilihan makanan yang berkalori tinggi.
  • Factor Psikologis; Rasa rendah diri, rasa bersalah, stres emosional, atau trauma dapat menyebabkan makan berlebihan sebagai sarana untuk mengatasi masalah.
  • Penyebab lain; Selain tiga faktor di atas, penyebab lain obesitas bisa berupa penyakit atau penggunaan obat tertentu. Penyakit hypotiroid, Cushing’s syndrome, dan depresi dapat memicu makan berlebihan. Beberapa obat seperti steroid dan antidepresan tertentu juga memiliki efek samping peningkatan berat badan.
Obesitas, Apa bisa diatasi…??

Jawabannya bisa dong. Intinya kita membatasi makan yang berkalori tinggi dan tingkatkan aktivitas fisik agar asupan kalori bisa seimbang dalam tubuh. Mengubah gaya hidup, perbanyak olahraga, ubah pola makan yang tadinya mungkin banyak makanan berlemak (seperti gorengan, jeroan) kini diperbanyak dengan buah-buahan, Hindari konsumsi alcohol, Jangan terlalu keras pada diri sendiri sampai tidak mau makan, ini bukan suatu metode yang tepat. Tetap makan, namun ganti menunya menjadi menu sehat. Jangan coba-coba meminum obat diet tanpa resep dokter, karena ditakutkan akan melukai lambung maupun usus, dan justru akan mengakibatkan metabolisme tubuh kacau.

Penanganan Obesitas Menggunakan Obat

Penanganan obesitas dengan obat biasanya akan disarankan oleh dokter apabila berat badan tidak berhasil diturunkan oleh penerapan pola hidup sehat semata. Pemberian obat juga biasanya hanya akan dilakukan dokter jika BMI Anda mencapai angka 28 atau lebih, dan Anda memiliki penyakit diabetes atau hipertensi. Obat – Obat yang sering dipakai antara lain:

1.      Orlistat (Xenical)
Obat yang sering kali diresepkan oleh dokter untuk menangani obesitas adalah obat yang mangandung orlistat. Obat ini bekerja di dalam saluran pencernaan dengan cara memblokir penyerapan lemak oleh tubuh. Efek samping penggunaan orlistat tergolong ringan, yaitu pusing, nyeri perut, perut kembung, serta menjadi sulit menahan dan sering buang air besar. Tinja seseorang yang mengonsumsi obat ini tampak seperti berminyak. Hal ini disebabkan oleh pembuangan lemak yang tidak terserap oleh tubuh. Jika orlistat berhasil menurunkan lima persen berat badan dalam waktu tiga bulan, penggunaan obat ini sebaiknya diteruskan. Namun jika dalam jangka waktu tersebut tidak ada penurunan berat badan yang berarti, maka obat ini tidak efektif untuk Anda dan sebaiknya Anda menemui dokter kembali untuk dicarikan solusi alternatif.
2.      Sibutramin (Meridia, Reductil)
Obat ini bekerja secara sentral menekan nafsu makan, dengan mengatur ketersediaan neurotransmiter di otak, yaitu menghambat re-uptake serotonin dan norepinefrin. Namun obat ini harus digunakan secara hati-hati karena dapat meningkatkan tekanan darah, menyebabkan mulut kering, konstipasi, sakit kepala dan insomnia.
3.      Diuretik
Obat-obat diuretik (pelancar air seni) juga sering dipakai sebagai obat pelangsing. Tapi sebenarnya efeknya tidaklah signifikan dalam mengurangi berat badan. Justru penggunaannya harus diperhatikan karena dapat mengganggu keseimbangan elektrolit dalam tubuh karena banyak ion-ion tubuh yang mungkin akan terbawa melalui urin. Jika berat badannya disebabkan karena timbunan cairan, maka diuretik memang pilihan yang tepat, tetapi jika karena timbunan lemak, tentu diuretik tidak akan berefek signifikan.
4.      Obat-Obat Herbal Pelangsing
Salah obat herbal yang sering dipakai untuk pelangsing adalah Jati Belanda. Senyawa tanin yang banyak terkandung di bagian daun, mampu mengurangi penyerapan makanan dengan cara mengendapkan mukosa protein yang ada dalam permukaan usus. Sementara itu, musilago yang berbentuk lendir bersifat sebagai pelicin. Dengan adanya musilago, absorbsi usus terhadap makanan dapat dikurangi. Hal ini yang yang menjadi alasan banyaknya daun jati belanda yang dimanfaatkan sebagai obat susut perut dan pelangsing.

Jika obesitas merupakan gejala atau komplikasi dari penyakit yang sedang Anda derita, misalnya diabetes, hipertensi, apnea tidur obstruktif, atau sindrom ovarium polikistik, maka dokter akan menyesuaikan pengobatan dengan kondisi yang mendasari tersebut. Dalam kasus seperti ini, pengobatan biasanya penderita akan dirujuk ke spesialis yang berkaitan.
Nah, sekarang pintar-pintarnya kita aja mau pilih cara alami atau dengan obat…??  Ingat! Obesitas membuat Anda rentan terhadap berbagai penyakit, termasuk diabetes, penyakit jantung, dan kanker. Tapi saya juga salah satu yang sering susah nahan ngemil loh teman-teman…hehehehehe. Gendut dikit gak masalah…..! Mungkin begitulah kata-kata penghiburan yang tepat…….
Semoga…….!

Sumber Bacaan:

Penggolongan Obat Halo teman-teman,  Berbicara mengenai Penggolongan Obat mungkin sudah tak asing lagi. Mulai dari Golongan Obat B...