Senin, 27 Maret 2017

Cerdas Menggunakan Antibiotik



Cerdas Menggunakan Antibiotik

Halo teman-teman….
Tulisan saya berikut ini lumayan menarik karena saya terinspirasi dari beberapa “kejadian menarik” yang sempat menyita perhatian saya sebagai Apoteker dan mungkin teman-teman saya sejawat lain yang bertugas bersama saya. Ditempat tugas saya, antibiotic sudah menjadi makanan sehari-hari atau bukan lagi menjadi obat yang dipantau pemakaiannya oleh tim medis. Bahkan beberapa pasien sering gak mau minum obat jika tanpa antibiotic, atau kadang sering menanyakan mana antibiotiknya saat petugas apotik menyerahkan obat ke pasien? Kira-kira apa sih pemahaman masyarkat tentang antibiotic sehingga begitu boming obat ini ditelinga masyarakat.
Nah, tulisan ini sedikit ingin memberi informasi kepada masyarakat agar mengenali dan memahami obat-obat antibiotic, resiko antibiotic, dan cara penggunaan secara tepat agar terhindar dari resistensi bakteri.
Apa itu bakteri?
Sebelum kita membahs tentang antibiotic, kita perlu mengenal dulu apa sih bakteri itu? Bakteri adalah suatu organisme yang jumlahnya paling banyak dan tersebar luas dibandingkan dengan organisme lainnya di bumi yang berukuran sangat kecil (mikroorganisme). Mikroorganisme sendiri ada bermacam-macam jenisnya, antara lain adalah virus, jamur, parasit, termasuk bakteri. Bakteri dapat dijumpai di hampir semua tempat, seperti tanah, air, udara, hidup bersama dengan organisme lain (ber-simbiosis), bahkan dalam tubuh manusia. Sebagian dari mereka bersifat merugikan dan dikenal sebagai penyebab infeksi dan penyakit pada manusia, sedangkan sebagian lain ada yang bermanfaat misalnya di bidang pangan, pengobatan dan industri.

Bakteri berasal dari kata bahasa latin yaitu bacterium. Bakteri memiliki jumlah spesies mencapai ratusan ribu atau bahkan lebih. Mereka ada di mana-mana mulai dari di tanah, di air, di organisme lain, dan lain-lain juga berada di lingkungan yang ramah maupun yang ekstrim.

Dalam tumbuh kembang bakteri baik melalui peningkatan jumlah maupun penambahan jumlah sel sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yakni seperti ph, suhu temperatur, kandungan garam, sumber nutrisi, zat kimia dan zat sisa metabolisme.
Bakteri yang menyebabkan penyakit pada manusia, maupun pada hewan dan tumbuhan, disebut bakteri patogen. Beberapa contoh bakteri patogen dan penyakit yang ditimbulkannya adalah seperti di bawah ini:

1.    Salmonella typhi :  Tifus
2.    Shigella dysenteriae: Disentri basiler
3.    Vibrio cholera: Kolera
4.    Haemophilus influenza: Influensa
5.    Diplococcus pneumoniae: Pneumonia (radang paru-paru)
6.    Mycobacterium tuberculosis: TBC paru-paru
7.    Clostridium tetani: Tetanus
8.    Neiseria meningitis: Meningitis (radang selaput otak)
9.    Neiseria gonorrhoeae: Gonorrhaeae (kencing nanah)
10. Treponema pallidum: Sifilis atau Lues atau raja singa
11. Mycobacterium leprae: Lepra (kusta)
12. Treponema pertenue: Puru atau patek


Golongan Obat Antibiotik
Golongan obat yang bisa membunuh bakteri disebut obat antibiotic.  Berdasarkan mekanisme aksinya dapat dibagi menjadi 4 golongan yaitu:
a.    Inhibisi sintesisi dinding sel atau yang bekerja menghambat pembentukan dinding sel bakteri contohnya:  golongan penicillin, sefalosporin dan glikopeptida, misalnya  amoksililin, ampisilin, sefotaksim, ceftriakson dan sefiksim.
b.    Inhibisi sintesis protein atau yang bekerja menghambat sintesis protein bakteri contohnya golongan makrolida (eritromisin, asitromisin), aminoglikosida, tetrasiklin, kloramfenikol, klindamisin, dll.
c.    Inhibisi sintes asam nukleat atau yang bekerja mengantagonis asam nukleat untuk pertumbuhan bakteri, contohnya: sulfonamid dan trimethoprim.
d.    Inhibisi membrane sel atau yang bekerja menghambat transkripsi dan replikasi DNA bakteri, contonya: golongan kuinolon, rifampisin dan aktinomisin.
Nah, dari sini tampak jelas bahwa golongan obat antibiotic itu banyak dan masing-masing memiliki spesifikasi sendiri terhadap bakteri yang timbul dari suatu penyakit. Ketika seorang pasien didiagnosa mengalami infeksi bakteri, dokter akan memilih antibiotic yang tepat sesuai dengan kondisi pasien (jenis penyakit, jenis bakteri yang menyebabkan penyakit dan sensitivitas kuman terhadap bakteri).
Cara Perkembangbiakan bakteri:
Bakteri umumnya melakukan reproduksi atau berkembang biak secara aseksual (vegetatif = tak kawin) dengan membelah diri. Pembelahan sel pada bakteri adalah pembelahan biner yaitu setiap sel membelah menjadi dua.

Reproduksi bakteri secara seksual yaitu dengan pertukaran materi genetik dengan bakteri lainnya. Pertukaran materi genetik disebut rekombinasi genetik atau rekombinasi DNA.
Rekombinasi genetik dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu:

1. Transformasi adalah pemindahan sedikit materi genetik, bahkan satu gen saja dari satu sel bakteri ke sel bakteri yang lainnya.

2. Transduksi adalah pemindahan materi genetik satu sel bakteri ke sel bakteri lainnnya dengan perantaraan organisme yang lain yaitu bakteriofage (virus bakteri).

3. Konjugasi adalah pemindahan materi genetik berupa plasmid secara langsung melalui kontak sel dengan membentuk struktur seperti jembatan diantara dua sel bakteri yang berdekatan. Umumnya terjadi pada bakteri gram negatif.

Respon Tubuh terhadap serangan infeksi disebut dengan peradangan. dalam kondisi normal sebisa mungkin tubuh manusia melakukan perlawanan terhadap infeksi yang bersifat merugikan tubuh, namun pada beberapa kondisi sistem kekebalan tubuh tidak mampu untuk melawan penyebab infeksi, dalam hal inilah diperlukan pengobatan seperti antibiotik untuk membantu sistem kekebalan tubuh terhadap infeksi.
Proses berkembangnya bakteri menjadi resisten bisa juga terjadi akibat penggunaan antibiotic yang tidak tepat atau sembarangan. Setelah gen resisten dihasilkan, bakteri kemudian dapat mentransfer informasi genetik secara horisontal (antar individu) dengan pertukaran plasmid. Mereka kemudian akan mewariskan sifat itu kepada keturunannya, yang akan menjadi generasi resisten. Resistensi antibiotic merupakan masalah kesehatan yang serius akhir-akhir ini. . Resistensi bakteri memang seperti tidak terasakan secara langsung akibatnya oleh pasien, namun baru akan terasakan dampaknya ketika seseorang terinfeksi dan tidak sembuh-sembuh setelah diberi antibiotika. Hal ini bisa terjadi jika pasien tersebut terinfeksi oleh bakteri yang resisten antibiotik, sehingga pengobatannya menjadi lebih sulit dan harus menggunakan obat yang lebih kuat dan lebih mahal dengan lebih banyak efek samping. Jika kejadian ini terakumulasi dalam sekelompok masyarakat, maka biaya kesehatan menjadi sangat meningkat. Penggunaan antibiotik yang terlalu sering dan tidak sesuai jenis bakterinya dapat menghasilkan jenis bakteri baru yang dapat bertahan terhadap pengobatan yang diberikan. Jenis bakteri baru ini memerlukan dosis pengobatan yang lebih tinggi atau antibiotik yang lebih kuat untuk mengatasinya. Penyebab utama meningkatnya bakteri yang resisten adalah penggunaan antibiotik secara berulang dan tidak sesuai jenis bakterinya. Hal ini menyebabkan jika seseorang menggunakan antibiotik maka bakteri yang sensitif akan terbunuh, di lain pihak bakteri yang reisisten akan tetap bertahan, tumbuh dan bereproduksi sehingga jumlah bakteri yang resisten akan meningkat. Penggunaan Antibiotik yang tidak rasional dapat berakibat buruk karena dapat menyebabkan bakteri menjadi resistensi atau kebal. Bakteri mampu bermutasi sehingga tahan terhadap antiibiotik (resistensi). Resistensi memunculkan Superbug, yaitu bakteri yang tidak dapat dibunuh oleh antibiotik paling mutakhir sekalipun.
Pendorong kecepatan resistensi bakteri dalam tubuh antara lain :
1)    Penggunaan antibiotik sembarangan.
Antibiotika tidak bisa membunuh virus. Beberapa penyakit yang sering kita jumpai seperti flu, batuk, diare, sebagian besar disebabkan oleh virus. Namun seringkali dokter meresepkan atau juga pasien berinisiatif untuk menggunakan antibiotik. Semestinya antibiotik hanya diperlukan bila flu dan pilek sudah ditumpangi infeksi sekunder oleh bakteri, dan itu dapat terlihat dari adanya tanda-tanda infeksi. Penggunaan yang tidak tepat seperti ini bisa menyebabkan bakteri yang semula “lemah” akan ber-evolusi menjadi bakteri yang “kuat” dan resisten.
2)    Putus obat.
Sering terjadi pasien menghentikan penggunaan antibiotika jika sudah merasa sembuh, padahal penggunaan antibiotika seharusnya dilakukan sampai jangka waktu tertentu, misalnya 5 hari atau 7 hari. Antibiotik harus habis diminum walaupun sudah merasa nyaman. Penggunaan yg tidak habis akan membunuh bakteri yang sensitif saja, dan meninggalkan bakteri yang masih “kuat’. Selanjutnya bakteri yang masih hidup menjadi resisten/kebal dan berkembang biak, dan memerlukan antibiotik yang lebih kuat (dan biasanya lebih mahal) ketika mengalami infeksi berikutnya.
Bagaimana Penggunaan Yang Benar?
Untuk menekan kejadian resistensi perlu dilakukan beberapa hal berikut:
a)    Jangan membeli sendiri tanpa resep dokter walaupun obat tersebut bisa dibeli di apotek tanpa resep. Karena Anda tidak tahu persis berapa dosis dan jumlah yang harus diminum. Penyakit yang nampaknya sama, belum tentu demikian, sehingga sebaiknya mendapatkan diagnosa yang tepat dari dokter. Apotek menjual antibiotika tanpa resep karena ada permintaan pasien. Rangkaian proses ini perlu diputuskan. Jangan mudah apalagi memaksa membeli antibiotik di Apotek tanpa resep dokter. Jangan menggunakan antibiotik pada penyakit-penyakit ringan akibat virus seperti flu, batuk, pilek, diare.

b)    Ingat antibiotik hanya untuk mengobati penyakit yang berasal dari bakteri (mikroba) seperti infeksi saluran kemih, radang tenggorokan.
c)    Tenaga kesehatan selain dokter seperti bidan, perawat, mantri, juga semestinya tidak mudah memberikan antibiotika kepada pasien.
d)    Apoteker lebih berhati-hati memberikan/menjual antibiotika. Jangan memberikan/menjual antibiotika sembarangan tanpa resep dokter. Jangan gantungkan rezeki Anda di sini, Insya Allah ada sumber lain yang lebih bermaslahat bagi masyarakat. Jika menyiapkan resep antibiotika untuk pasien, sebaiknya berikan edukasi secukupnya mengenai cara penggunaan obatnya yang tepat, misalnya : harus habis, dll.
e)    Dokter dan apoteker sebagai sesama tenaga kesehatan perlu meningkatkan komunikasi yang lebih efektif terkait dengan penggunaan antibiotika. Apoteker lebih memahami mengenai antibiotik dan indikasinya, sementara dokter juga terbuka untuk diingatkan jika meresepkan antibiotika secara kurang rasional
Cerdas dalam menggunakan antibiotic dapat mengurangi resisten bakteri dalam tubuh kita. Semoga tulisan singkat ini dapat bermanfaat untuk kita…..!!




                                                                                                

Jumat, 24 Maret 2017

Tuntaskan Diare Pada Anak



Tuntaskan Diare Pada Anak

Halo teman-teman,
Musim hujan seperti sekarang banyak wabah yang tersebar. Salah satunya diare. Nah, pada tulisan kali ini saya ingin membagikan beberapa informasi penting tentang bagaimana sih jika menghadapi diare pada anak? Apa yang perlu dilakukan dan bagaimana tatalaksana diare yang tepat untuk anak-anak?

Apa itu Diare?
Diare adalah suatu kondisi dimana seseorang buang air besar dengan kondisi lembek atau cair bahkan dapat berupa air saja dan frekuensinya lebih sering dari biasanya, biasanya tiga kali atau lebih dalam sehari. 

Apa Saja Jenis Diare?
Ada 2 jenis diare yaitu:
1.      Diare Akut
Buang air besar yang frekuensinya lebih sering dari biasanya (pada umumnya 3 kali atau lebih) dengan konsistensi cair dan berlangsung kurang dari 7 hari.
Secara klinis penyebab diare akut dibagi dalam 4 kelompok yaitu infeksi, malabsorbsi, keracunan makan dan diare terkait penggunaan antibiotik.
Infeksi dapat disebabkan oleh bakteri, virus, fungi, parasite (protozoa, cacing). Dari berbagai penyebab tersebut yang sering ditemukan adalah diare yang disebabkan oleh infeksi virus.
2.      Diare Kronis
Diare yang berlangsung lebih dari 14 hari dan terkadang buang air besar disertai darah.
Derajat dehidrasi pada diare ada 3 macam yaitu:
·         Tanpa dehidrasi; Keadaan umum (baik/sadar), mata (tidak cekung),  keinginan untuk minum (normal), Turgor (kembali segera).
·         Dehidrasi ringan/sedang; Keadaan umum (gelisah/rewel), mata (cekung), keinginan untuk minum (ingin minum terus), Turgor (kembali lambat)
·         Dehidrasi berat; keadaan umum (lesu/lunglai, tidak sadar), mata (cekung), keinginan untuk minum (malas minum), Turgor ( kembali sangat lambat).

Prinsip Tatalaksana Penderita Diare
Prinsip tatalaksana penderita diare pada anak adalah Lintas Diare (Lima Langkah Tuntaskan Diare), yang terdiri dari:
1.      Oralit osmolaritas rendah
Mencegah terjadinya dehidrasi dapat dilakukan mulai dari rumah dengan memberika oralit. Bila tidak tersedia, berikan lebih banyak cairan rumah tangga yang mempunyai osmolaritas rendah seperti air tajin, kuah sayur, kuah sup, sari buah, air the dan air matang.
Macam cairan yang digunakan bergantung pada:
a)      Kebiasaan setempat dalam mengobati diare
b)      Tersedia cairan/ sari makanan yang cocok
c)      Jangkauan pelayanan kesehatan
Bila terjadi dehidrasi (terutama pada anak), penderita harus segera dibawa ke petugas kesehatan atau sarana kesehatan untuk mendapatkan terapi rehidrasi yang cepat dan tepat.
2.      Zinc
Anak yang mengalami diare akan kehilangan zinc bersama tinja sehingga menyebabkan defisiensi menjadi lebih berat. Zinc adalah salah satu mikronutrien yang penting dalam tubuh. Zinc dibutuhkan dalam tubuh karena memiliki lebih dari 300 macam enzim sebagai kofaktornya, termasuk enzim superoksida dismutase (Linder, 1999). Enzim ini berfungsi untuk metabolism radikal bebas superoksida sehingga kadar radikal bebas didalam tubuh berkurang. Pada proses inflamasi, kadar radikal bebas superoksida meningkat, termasuk jaringan epitel dalam usus (Cousins et al, 2006).
Pemberian zinc selama diare terbukti mampu mengurangi lama dan tingkat keparahan diare, mengurangi frekuensi buang air besar, mengurangi volume tinja, serta menurunkan kekambuhan kejadian diare pada 3 bulan berikutnya (Wapnir, 2000). Zinc diberikan pada setiap diare dengan dosis:
Ø  < 6 bulan diberikan 10 mg (½ tablet) zinc per hari.
Ø  > 6 bulan diberikan 1 tablet zinc 20 mg.
Pemberian zinc diteruskan sampai 10 hari, walaupun diare sudah membaik. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah kejadian diare selanjutnya selama 3 bulan ke depan.
3.      Pemberian ASI/ Makanan
Pemberian makanan selama diare bertujuan untuk memberikan gizi pada penderita terutama pada anak agar tetap kuat dan tumbuh serta mencegah berkurangnya berat badan. Anak yang masih minum ASI harus lebih sering diberi ASI. Anak yang minum susu formula diberikan lebih sering dari biasanya.
Anak usia 6 bulan atau lebih termasuk bayi yang telah mendapatkan makanan padat haru diberikan makanan yang mudah dicerna sedikit demi sedikit tetapi sering. Setelah diare berhenti, pemberian makanan ekstra diteruskan selama 2 minggu untuk membantu pemulihan berat badan anak.
4.      Pemberian Antibiotik Hanya Atas Indikasi
Antibiotic tidak boleh digunakan secara rutin karena kecilnya kejadian diare yang memerlukannya (8,4%). Antibiotic hanya bermanfaat pada anak dengan diare berdarah (sebagian besar karena shigellosis), suspek kolera, dan infeksi-infeksi diluar saluran pencernaan yang berat, seperti pneumonia.
Obat-obatan anti diare tidak boleh diberikan pada anak yang menderita diare karena terbukti tidak bermanfaat. Obat anti muntah tidak dianjurkan kecuali muntah berat. Obat-obatan ini tidak mencegah dehidrasi ataupun meningkatkan status gizi anak. Obat antiprotozoal digunakan bila terbukti diare disebabkan oleh parasite (amuba, giardia).
5.      Pemberian Nasehat
Ibu atau keluarga yang berhubungan erat dengan anak harus diberi nasehat tentang:
a)      Cara memberikan cairan (Oralit) dan obat Zinc di rumah.
b)      Kapan harus membawa kembali balita ke petugas kesehatan:
§  Diare lebih sering
§  Muntah berulang
§  Sangat haus
§  Makan atau minum sedikit
§  Timbul demam
§  Tinja berdarah
§  Tidak membaik dalam 3 hari
Nah, mungkin ini beberapa tips yang dapat saya bagikan kepada teman-teman dalam menangani diare pada anak. Semoga bermanfaat ya….!!!

Penggolongan Obat Halo teman-teman,  Berbicara mengenai Penggolongan Obat mungkin sudah tak asing lagi. Mulai dari Golongan Obat B...